Sejarah

Masa reformasi di Indonesia yang dimulai pada tahun 1998 telah membawa demokrasi ke arah yang relatif lebih baik dengan masuknya ke dunia pendidikan nasional antara lain dengan lahirnya Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan bukan lagi merupakan tanggung jawab pemerintah pusat tetapi diserahkan kepada tanggung jawab pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, hanya beberapa fungsi saja yang tetap berada di tangan pemerintah pusat. Perubahan dari sistem yang sentralisasi ke desentralisasi diharapkan akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang jauh lebih positif di dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.

Selain itu, pentingnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang sejahtera dan berkualitas juga menjadi perkembangan penting masa reformasi yang terwujud dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dengan terbitnya UU ini, diharapkan bukan hanya kesejahteraan para guru dan dosen yang meningkat, tetapi juga kualitasnya. Apalagi ditambah dengan Peraturan Pemerintah (PP) no. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Sekarang reformasi sudah hampir memasuki usia 17 tahun. Dengan masa yang cukup lama disertai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi informasi yang sangat pesat ini, seharusnya kualitas pendidikan di Indonesia juga meningkat. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Semakin hari pendidikan di Indonesia nampak semakin memburuk. Hal ini ditandai dengan banyaknya sarjana-sarjana atau lulusan perguruan tinggi yang bekerja tidak sesuai dengan jurusannya, atau malah menganggur dikarenakan tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia . Tentunya banyak faktor yang melatarbelakangi buruknya lulusan perguruan tinggi ini di Indonesia. Salah satunya adalah mungkin karena belum diterapkannya model pembelajaran Student Centered Learning (SCL) di perguruan tinggi yang merupakan faktor terpenting dalam kualitas belajar mahasiswa, yang pada gilirannya akan menjadi alumni atau lulusan yang berkompeten dan memiliki keahlian yang dibutuhkan dalam karier dan mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya di dalam masyarakat.Belakangan ini, diskusi-diskusi, lokakarya dan seminar-seminar tentang Student Centered Learning (SCL) juga mulai banyak dilakukan dalam rangka mewacanakan penerapannya di perguruan tinggi. Bahkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah menerapkan model pembelajaran yang secara teoritis telah menjadi pembicaraan pada pertengahan abad ke-20 ini di institusi-institusi mereka, seperti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).           Apa yang dimaksud Student Centered Learning (SCL) ini? Bagaimana penerapannya di perguruan tinggi? Dan bagaimana membangun sinergi antara  dosen dan mahasiswa dalam menerapkan SCL ini di perguruan tinggi?

Belakangan ini, diskusi-diskusi, lokakarya dan seminar-seminar tentang Student Centered Learning (SCL) juga mulai banyak dilakukan dalam rangka mewacanakan penerapannya di perguruan tinggi. Bahkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah menerapkan model pembelajaran yang secara teoritis telah menjadi pembicaraan pada pertengahan abad ke-20 ini di institusi-institusi mereka, seperti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Apa yang dimaksud Student Centered Learning (SCL) ini? Bagaimana penerapannya di perguruan tinggi? Dan bagaimana membangun sinergi antara  dosen dan mahasiswa dalam menerapkan SCL ini di perguruan tinggi?